Comment

Inilah yang Terjadi Pada Tubuh Ketika Tersambar Petir

Sudah jadi rahasia umum bahwa sengatan petir mengandung energi listrik yang besar. Itulah mengapa ketika cuaca buruk melanda disertai petir, banyak orang lebih memilih berlindung di rumah ketimbang nekat keluar rumah.

Peneliti dan Profesor emeritus matematika dari Imperial College, Inggris, David Hand berkata bahwa kemungkinan seseorang untuk tersambar petir adalah satu dalam 300.000. Walaupun kemungkinan tersebut terdengar kecil, tetapi dengan banyaknya populasi dunia, sambaran petir telah menjadi penyebab kematian 4000 orang setiap tahunnya.

Padahal, sambaran petir terjadi begitu cepat dan jumlah listrik yang mengalir pada tubuh sangat kecil. Mengapa sambaran petir bisa begitu fatal? Mary Ann Cooper, seorang dokter gawat darurat yang telah pensiun dan peneliti petir, berkata bahwa mayoritas listrik dari sambaran petir mengalir di luar tubuh dalam efek flashover.

Listrik yang mengalir di luar tubuh ini bisa bereaksi dengan keringat atau tetesan air hujan pada kulit. “Volume air memuai ketika diubah menjadi uap, jadi jumlah kecil pun bisa menyebabkan ledakan uap. Reaksi ini benar-benar meledakkan baju Anda,” ucapnya.

ahloo-tersambar-petir

Cooper yang pernah menulis sebuah studi mengenai luka akibat sambaran petir sekitar empat dekade lalu berkata bahwa kehilangan kesadaran adalah efek yang paling sering ditemukan dalam laporan 66 dokter yang menjadi data penelitiannya. Lalu, sekitar satu per tiga korban juga mengalami kelumpuhan sementara pada lengan dan kaki mereka.

Sementara itu, efek yang lebih berbahaya adalah ketika aliran listrik menghentikan jantung. Untungnya, Chris Andrews, seorang dokter dan peneliti petir di University of Queensland Australia, berkata bahwa jantung memiliki alat pacu alami yang akan mereset dirinya sendiri.

Sebaliknya, masalah terbesar menurut Andrews adalah ketika petir mematikan area otak yang mengontrol pernafasan. Dia berkata bahwa bagian tubuh ini tidak bisa mereset dirinya sendiri sehingga persediaan oksigen korban akan terjun bebas dan membuat jantung terserang kembali.

“Jika seseorang yang masih hidup bilang bahwa dia pernah tersambar petir, kemungkinan besar alat pernafasan mereka tidak mati sepenuhnya,” ujarnya.

Walaupun demikian, bukan berarti bahwa tetap hidup setelah tersambar petir tidak memiliki konsekuensi apa pun. 90 persen dari korban yang selamat mengalami berbagai efek jangka panjang dan pendek seperti serangan jantung, kebingungan, kejang, tuli, sakit kepala, kehilangan memori, hingga perubahan kepribadian.

Menganalogikannya seperti komputer yang terganggu akibat sengatan listrik, Cooper berkata bahwa petir juga bisa merusak otak dengan cara serupa. “Walaupun luarnya tampak baik-baik saja, tetapi software yang mengontrol fungsinya telah rusak,” katanya.

Sumber: Kompas