Comment

Simpang Susun Semanggi, Wajah Baru Jakarta yang Segera Dapat Dinikmati

Selama empat puluh tahun lebih nama kawasan Semanggi identik dengan jembatan Semanggi. Saat peristiwa berdarah tahun 1998, tempat ini bagaikan neraka ketika ratusan ribu mahasiswa turun ke jalan untuk menuntut reformasi di pemerintahan. Dalam keadaan normal, kawasan ini terbilang ramai dan tak jarang jadi salah satu titik kemacetan yang paling parah di Jakarta.

Lalu pada 2016 lalu munculah ide dari Pemprov DKI Jakarta untuk membangun sarana infrastruktur baru. Mereka menamainya Simpang Susun Semanggi. Pembangunannya terbilang cukup cepat loh. Hanya satu tahun.

simpang-susun-semanggi1-vert

Dini hari tadi Simpang Susun Semanggi akhirnya tersambung secara sempurna. Box girder terakhir dipasang di bentang flyover sisi barat yang menggantung di atas Jalan Jenderal Gatot Subroto. Itu berarti konstruksi utama Simpang Susun Semanggi telah selesai.

Lalu kapan fasilitas baru ini bisa dinikmati? Setelah konstruksi utama selesai, pihak kontraktor akan melakukan pemasangan parapet, pengaspalan, dan pencahayaan. Tahap selanjutnya Komite Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan akan menilai kelaikan untuk memastikan keamanannya. Baru setelah itu kamu bisa melewatinya.

simpang-susun-semanggi3

Jalan layang senilai Rp 360 miliar ini terbagi menjadi dua ramp, yakni ramp 1 sepanjang 796 meter untuk kendaraan dari arah Grogol ke Blok M. Sementara ramp 2 sepanjang 826 meter digunakan untuk kendaraan dari arah Cawang menuju Thamrin.

Simpang Susun Semanggi bisa menjadi ikon baru kota Jakarta. Dari bentuk rancangannya, proyek ini memberikan wajah baru bagi kawasan Semanggi yang dulu dikenal dengan jembatan Semanggi.

jembatan-semanggi

Jembatan Semanggi dibangun pada masa pemerintahan Presiden Sukarno. Nama itu dipakai karena bentuk bangunan ini mirip daun Semanggi. Bagi Sukarno, daun ini memiliki filosofi yang kuat karena menjadi simbol persatuan.

Dalam bahasa Jawa, Sukarno menyebut daun Semanggi sebagai “suh” atau pengikat sapu lidi. Tanpa “suh” sebatang lidi akan mudah patah. Sebaliknya, gabungan lidi-lidi yang diikat dengan “suh” menjadi kokoh dan bermanfaat menjadi alat pembersih.