Comment

Revisi Permenhub No.32/2016 Tentang Angkutan Online, Beginilah Dampaknya Bagi Konsumen

Mulai 1 April mendatang para pengguna taksi dan ojeg online akan merasakan sedikit perubahan, tentu saja perubahan yang paling terasa dari segi ongkos jalan. Kok bisa? Ya, ini adalah imbas dari diberlakukannya revisi Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No.32/2016/

Permen ini sebenarnya sudah diluncurkan pada tahun lalu. Namun karena dinilai belum memuaskan semua pihak, Kementerian Perhubungan lalu melakukan revisi dengan melibatkan Organda dan perusahaan angkutan online seperti Gojek, Uber Indonesia, dan juga Grab.

Selain belum memuaskan beberapa pihak, penerapan revisi Permenhub No.32/2016 karena di Tangerang, Depok, Bogor, dan beberapa daerah lainnya marak unjuk rasa dari pengemudi angkutan konvensional. Mereka ramai-ramai menolak angkutan online karena dianggap berbisnis dengan tidak sehat.

Lalu bagaimana dengan nasib konsumen angkutan online? Apakah mereka akan terkena dampaknya? Redaksi ahloo merangkum beberapa hal yang bisa terjadi pada konsumen apabila revisi  Permenhub No.32/2016 jadi diberlakukan.

Ojeg Online di Daerah Mungkin Tutup

 ahloo-permenhub-3

Salah satu poin yang masih menggantung dalam revisi Permenhub adalah nasib dan status ojeg online seperti Gojek, Grab Bike, hingga Uber Bike. Aturan operasional ojeg online nantinya akan diserahkan ke Pemda masing-masing, apakah mengizinkan atau tidak operasional mereka. Pemda DKI Jakarta kemungkinan akan tetap membolehkan ojeg online beroperasi mengingat efektivitas dan tingkat permintaan yang tinggi. Namun hal ini belum tentu berlaku di daerah lain. Pada daerah yang belum cukup populer, Pemda bisa saja memberlakukan larangan operasional ojeg online dan mengembalikan lagi pada ojeg konvensional (pangkalan).

Kenaikan Tarif Dasar Taksi dan Ojeg Online

ahloo-permenhub-2

Poin lain yang belum selesai adalah soal penentuan tarif dasar dan tarif atas angkutan online. Poin ini jadi perdebatan karena dianggap mematikan bisnis angkutan konvensional seperti taksi maupun angkot. Sederhananya, naik ojeg dan taksi online bisa lebih murah dibandingkan angkutan lain. Tapi sepertinya ‘kenyamanan’ tersebut akan berakhir. Mulai 1 April, seluruh armada ojeg online akan menaikkan tarif hingga Rp 3.000 per kilometer. Tarif itu setara dengan tarif taksi konvensional. Tidak menutup kemungkinan kenaikan itu terus bertambah mengingat bertambahnya syarat yang harus dipenuhi pengemudi ojeg dan taksi online. Syarat itu tentu butuh biaya dong!

Perlindungan Terhadap Konsumen Meningkat

ahloo-permenhub-1

YLKI, salah satu lembaga nirlaba yang berfokus pada perlindungan konsumen mengatakan penerapan revisi Permenhub No.32/2016 membuat pengemudi dan perusahaan angkutan online menaikkan standar keselamatannya. Contoh paling mudah adalah kapasitas mesin kendaraan dan suku cadang yang harus sesuai prosedur. Seperti halnya angkutan konvensional, taksi online maupun ojeg online wajib meletakkan keselamatan penumpang sebagai prioritas pertama. Selain itu, data pribadi konsumen yang sudah masuk dalam basis data perusahaan seperti Gojek, Grab, dan Uber tidak bisa disalahgunakan begitu saja.

Apakah semua prediksi ahloo akan terjadi? Entahlah. Semua itu akan terjawab dalam tiga bulan ke depan sesuai peraturan yang ditetapkan pemerintah. Mulai 1 April mendatang masa ujicoba peraturan dimulai hingga 1 Juli. Setelah itu, biarlah waktu yang menjawab.

Berbagai sumber