Comment

Indomie: Mengenalkan Indonesia Lewat Sebungkus Mi Instan

Masih ingat iklan jadul di atas? Buat kamu yang lahir di era 1990an pasti tahu tayangan di atas. Ya, iklan itu seringkali muncul di layar kaca. Saking seringnya, setiap kali kita merasa lapar, mi goreng produksi Indofood selalu jadi pilihan pertama. Popularitas Indomie khususnya mi goreng memang sulit dibendung oleh produk sejenis yang menjadi saingan mereka.

Bukan hanya dijadikan sebagai makanan “pengganjal” perut saat rasa lapar datang, produk Indomie juga jadi andalan saat keadaan darurat menyerang seperti bencana alam. Itulah kenapa dulu sempat muncul anekdot, apapun jenis bencananya bukan polisi, tentara, pemadam kebakaran, atau relawan yang datang pertama tetapi Indomie.

Nama besar Indomie bukan hanya dikenal di dalam negeri. Kiprahnya sudah mencapai mancanegara, sebuah prestasi yang jarang sekali dibuat oleh perusahaan nasional Indonesia. Sadar atau tidak, Indomie sudah mengenalkan Indonesia melalui sebungkus mi yang mereka jual.

ahloo-indomie-1

Kiprah bisnisnya di luar negeri tak bisa disepelekan. Hasil survei Kantar Worldpanel pada 2015 menempatkan Indomie di peringkat 8 sebagai merek dagang paling sering dipilih konsumen dunia. Mereka bahkan berhasil mengalahkan Knorr dan Dove dengan poin 1,89 juta.

Hasil survei itu diambil berdasarkan data perilaku konsumen yang dikumpulkan dari lebih 300 miliar keputusan pembelanja. Studi ini mencakup 15.000 merek di 44 negara yang berbeda. Lalu apa yang sebenarnya membuat Indomie begitu sukses di dalam negeri maupun luar negeri?

Harga terjangkau, awet, dan simpel adalah prinsip selalu dipegang konsumen ketika mencari kudapan. Selera inilah yang berhasil dibaca oleh produsen Indomie, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Selain itu mereka kerap kali melakukan inovasi dengan mengeluarkan produk dengan varian rasa yang berbeda sesuai perkembangan selera konsumen.

Tak heran bila Indomie bukan hanya dikenal di negara tetangga dekat, seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan tapi sudah menjangkau lebih dari 80 negara di Eropa, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika. Bahkan di Sudan dan Lebanon, Indomie hampir ada di setiap toko ritel dan supermarket.

Kesuksesan itu lantas membuat mereka berani berinvestasi. Indofood membangun pabrik di sejumlah negara, seperti Malaysia, Saudi Arabia, Suriah, Mesir, di samping Nigeria. Indomie menjadi merek produk mi instan yang sangat populer di Indonesia dan Nigeria.

ahloo-indomie-nigeria

Terdapat cerita lucu, ada seorang warga Nigeria berkunjung ke Jakarta dan mendapati Indomie di sebuah supermarket. ”Lho Indomie kan bikinan asli Nigeria, kok ada di sini,” seloroh si warga Nigeria spontan Ini bukti memang Indomie sudah menjadi merek yang dikenal luas di Nigeria.

Indomie atau Indofood mungkin tak akan pernah setenar ini tanpa campur tangan pendirinya, Sudono Salim atau yang dikenal Liem Sioe Liong. Sebelum membangun merek Indomie jadi besar seperti sekarang, keluarga Liem lebih dulu memproduksi mi instan lain dengan merek Supermi di bawah bendera PT Lima Satu Sankyu pada 1968.

Perusahaan itu lalu membangun anak usaha lain, PT Sanmaru Foods Manufacturing Co Ltd (PT Sanmaru) yang merupakan bagian dari grup Jangkar Jati. PT Sanmaru lah yang bertugas memproduksi merek Indomie.

ahloo-indomie-jadul

Sejak saat itu bisnis usaha keluarga Liem berkembang pesat. Kedekatan dengan keluarga Cendana turut membantu mereka menjadi pengusaha nomor satu di Indonesia. Meski kesuksesan mereka seakan tak terbendung bukan berarti korporasi ini tak pernah merasakan kejatuhan.

Pada 1998 saat krisis moneter melanda Indonesia, usaha keluarga Liem pun ikut terseret dan hampir bangkrut. Bahkan rumah Liem yang berada di kawasan Gunung Sahari menjadi korban pengerusakan dan penjarahan. Setelah peristiwa tersebut, ia mulai mengalihkan kepengurusan bisnisnya kepada anaknya Anthony Salim, lalu pindah dan tinggal di Singapura hingga meninggal di usia 95 tahun.

ahloo-indomie-anthony-salim

Anthony Salim, pewaris tahta keluarga Liem

Mendapatkan warisan “tahta” pimpinan perusahaan bukan berarti berkah bagi Anthony Salim. Dia harus memutar otak bagaimana melunasi utang perusahaan yang saat itu nilainya mencapai Rp 55 triliun.

Dia menjual beberapa perusahaan yang dimilikinya yaitu PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA, dan PT Indomobil Sukses Internasional. Hanya dua perusahaan yang tetap ia pertahankan, PT Indofood dan PT Bogasari Flour Mills, sebuah perusahaan penggilingan gandum yang mereka akuisisi pada 1995.

Keputusan itu terbukti tepat. Anthony Salim kini berhasil menuai apa yang telah keluarganya bangun selama bertahun-tahun. Berkat usahanya membangun perusahaan mi instan dan tepung terigu, Anthony Salim pernah dinobatkan sebagai taipan terkaya nomor 3 di Indonesia oleh Majalah Globe Asia dengan kekayaan mencapai Rp 27 triliun.

Berbagai sumber