Comment

Avery Jackson, Media, dan Kontroversi Transgender yang Tak Kunjung Surut

Bak seorang model profesional, Avery Jackson (9) duduk dengan pose santai di atas bagian lengan sofa. Bocah cilik itu tampak terbiasa dengan sorotan kamera yang merekam wajahnya. Hari itu Avery berpose untuk media kenamaan, National Geographic. Ia memakai kaos dan celana berwarna merah muda yang senada dengan warna rambutnya. Warna yang kental dengan identitas perempuan. Identitas yang selama ini Avery inginkan meskipun terlahir sebagai seorang anak laki-laki.

Tahun depan tepatnya pada bulan Januari, National Geographic (NG) menjadikan wajah Avery sebagai cover mereka. Pada edisi itu NG memang secara khusus mendalami kontroversi transgender. Sebuah problema sosial yang sudah menjadi perdebatan di berbagai belahan dunia, termasuk di negara asal Avery, Amerika Serikat.

Munculnya wajah Avery ini merupakan langkah berani baik bagi Avery sendiri, mengingat usianya yang masih muda, maupun bagi redaksi NG. Banyak yang mendukung namun tidak sedikit yang memberikan kritikan pedas pada Avery dan NG.

Lewat situs resminya, pihak NG mengatakan banyak opini dan respon berdatangan sejak mereka mempromosikan edisi terbaru majalah tersebut di Instagram, Facebook dan Twitter. “Puluhan ribu orang bereaksi dengan beragam opini, dari ekspresi bangga dan terima kasih hingga mengungkapkan kemarahan. Banyak juga yang berniat membatalkan berlangganan. Komentar-komentar itu merupakan bagian kecil dari diskusi mendalam tentang isu gender yang terjadi saat ini,” tulis National Geographic dalam kolom editor.

ahloo-transgender-1

Avery Jackson bersama sang kakak ketika masih usia balita

Pada Edisi Januari 2017, NG fokus pada isu tentang anak-anak muda dan bagaimana gender memainkan peran di berbagai dunia. Salah satu dari kisahnya  dibuat beberapa seri video. NG sampai harus pergi ke delapan negara dan memotret 80 anak berusia sembilan tahun, yang dengan berani dan jujur berbincang tentang bagaimana gender memengaruhi kehidupan mereka.

Salah satu dari mereka adalah Avery, yang kini dikenal sebagai aktivis LGBT. Avery secara terbuka menjalani kehidupannya sebagai gadis transgender sejak usia lima tahun. Sosok Avery dianggap mampu menggambarkan sebuah kompleksitas pembicaraan seputar gender.

Hasil foto ke-80 anak tersebut sangat indah. Namun sosok Avery di dalam foto cukup menarik perhatian redaksi NG hingga akhirnya dipilih menjadi sampul majalah. “Kami secara khusus menyukai potret Avery-tangguh dan kuat. Kami berpikir, hanya dalam sekilas mata, dia mampu merangkum konsep “Revolusi Gender”,” tulis National Geographic lagi.

ahloo-transgender-2

Bersama sang bunda yang berbesar hati menerima keadaannya.

Avery Jackson terlahir sebagai laki-laki. Namun ketika berusia empat tahun, ia mulai merasakan bahwa dirinya adalah seorang perempuan. Avery pun mengatakan hal itu pada orangtuanya.

Tak banyak orangtua yang mau menerima keadaan anaknya namun tidak bagi orangtua Avery. Debi Jackson, ibunda Avery menahan haru ketika tahu wajah anaknya akan muncul dalam sampul National Geographic. Dia merasa itu sebagai sebuah langkah awal bagaimana masyarakat bisa menerima keberadaan Avery dan anak-anak lain yang bernasib sama.

Pada 2012, Debi dan suaminya mulai mengizinkan Avery pergi ke sekolah dengan berpakaian a la perempuan. Sejak saat itu Avery selalu menerima bullying dari teman-teman sekolahnya. Debi lalu memutuskan untuk menyekolahkan Avery di Homeschooling.

“Dia bahagia menjadi dirinya sendiri meskipun dengan resiko kehilangan banyak teman dan keluarga yang tidak mau menerima keputusannya,” kata Debi. (dj)