Comment

Menikmati Wisata Religi Berbalut Budaya di Sekaten Yogyakarta

Tanah lapang seluas 150 x 150 meter itu kini telah dirias. Aneka ragam permainan khas pasar malam berdiri menyambut perayaan Sekaten di Alun-alun Utara (Lor) Yogyakarta.

ahloo-0700-sekaten-pasar-malam-gudegnet

Ingar-bingar di taman luas ini dipastikan hingga puncak perayaan Sekaten pada Senin, 12 Desember 2016 atau bertepatan dengan peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW atau yang dikenal dengan Maulid. Secara tradisi, parade para prajurit keraton bersenjata lengkap akan membuka iring-iringan gunung makanan yang diarak keluar Keraton Yogyakarta.

Jajaran makanan hasil Bumi persembahan rakyat ini menjadi tanda kemakmuran Kesultanan Yogykarta yang dapat dinikmati masyarakat sekitar. Tak pelak tiap kali tradisi budaya bernama Grebeg ini digelar, warga berebut makanan gunungan untuk mendapatkan simbol rejeki untuk kehidupan mendatang.

ahloo-0700-sekaten-grebeg-gunung-gudegnet

image: gudeg.net

Khasnya acara ini nggak lepas dari tiga kuliner yang dapat kamu jadikan tujuan berwisata di Yogyakarta. Ada nasi gurih yang disajikan bersama kacang goreng, kedelai goreng, kedelai hitam goreng, udang kecil, telur dadar, dan kerupuk koya. Kuliner serupa nasi uduk ini dapat pula dinikmati bersama dengan menu tambahan seperti ayam suwir dan gudeg. Selain itu kamu bisa juga menikmati nasi kuning dan endhok abang (telur merah) yang dijajakan di pasar malam Alun-alun Utara.

ahloo-0700-sekaten-1

Seluruh rangkaian acara ini sebenarnya hanya pelengkap dari perayaan Sekaten yang sesungguhnya. Agenda utamanya merupakan memperingati dua agenda yakni penabuhan gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntun Madu dari Masjid Agung Yogyakarta dan prosesi Sultan Yogyakarta ‘njejak bata’ atau menendang batu bata pada tembok di masjid sebelah Selatan. Turut pula momen berkumpul di tempat tersebut untuk mendengarkan penuturan kisah para Nabi.

Sekaten yang berasal dari kata ‘syahadatain’ atau syahadat ini telah diakuit oleh UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia sejak 2014. Artinya, perhelatan tersebut telah sejajar dengan wayang, keris, batik, gamelan, dan lumpia.

Nah, selain  di Yogyakarta, Sekaten juga dirayakan di beberapa propinsi yang memiliki sejarah kerajaan Islam yakni Solo dan Cirebon. Acaranya digelar pada waktu yang berbeda-beda meski ritualnya memiliki kemiripan. (ta)