Comment

Kurangnya Pohon Di Perkotaan Sebabkan Tingkat Kematian yang Tinggi

Siapa sih yang tak ingin kotanya terasa sejuk sepanjang hari meski cuaca panas dan polusi kendaraan tak pernah ada hentinya? Salah satu membuat kota sejuk adalah dengan memperbanyak ruang terbuka hijau dan menanam pohon. Hal itu penting karena menurut hasil studi Harvard University yang dikutip TempoPolutan particulate matters di atas 2,5 (PM2.5) bisa membunuh 6,2 juta orang tiap tahun. Wow!!

Delon Marthinus, forestry and climate change specialist dari The Nature Conservancy (TNC) Indonesia mengatakan studi yang dirilis pada awal November ini melihat peran pohon berdasarkan informasi geospasial pada hutan dan permukaan tanah, konsentrasi polutan PM2.5, serta kaitannya terhadap kepadatan penduduk di 245 kota di dunia, termasuk Jakarta.

ahloo-pohon-kota-1

Para peneliti mengestimasi peran pohon dalam membuat udara kota lebih sehat pada masa mendatang. Dalam riset ini, TNC bekerja sama dengan C40 Cities, konsultan lingkungan yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Pepohonan di 245 kota bisa mengurangi PM2.5 sedikitnya 10 mikrogram per meter kubik. Selain itu, ada 68,3 juta orang di luar 245 kota tersebut yang mendapatkan pengurangan suhu 0,5-2 derajat Celsius pada temperatur maksimum saat musim panas. Lumayan kan!

Itu artinya penanaman pohon di perkotaan bisa menjadi cara yang murah dan efektif untuk membuat udara lebih sehat. Dari perhitungan, tim mendapatkan angka investasi cukup US$ 4 atau sekitar Rp 55 ribu per kepala untuk penanaman pohon. Sangat murah. Pohon bisa mengurangi kematian akibat PM2.5 sebesar 2,7-8,7 persen atau 11-36 ribu jiwa setiap tahun.

ahloo-pohon-kota-2

Pohon juga bisa mengurangi mortalitas 2,4-5,6 persen atau 200-700 jiwa tiap tahun akibat suhu yang tinggi. Apalagi bila mengingat potensi perubahan iklim yang kian meningkat, kematian akibat suhu tinggi bisa meningkat lebih dari 20 kali lipat.

Apakah Jakarta sudah cukup sejuk dan banyak pohon?

Berdasarkan data Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, ruang terbuka hijau di Jakarta masih jauh dari target. Hingga 2016, hanya 5,4 persen dari 66.500 hektare lahan di Jakarta yang berfungsi sebagai ruang hijau untuk publik milik Dinas Pertamanan dan Pemakaman.

Kepala Seksi Perancangan Taman Heriyanto menyatakan lahan ruang terbuka hijau di Jakarta sebenarnya sudah mencapai 14,95 persen. Namun sebagian besar dimiliki swasta dan pemerintah pusat. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 menyebutkan 30 persen tanah perkotaan harus menjadi ruang terbuka hijau (RTH), yang terdiri atas 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat.

ahloo-pohon-kota-3

Untuk mencapai target 20 persen RTH publik, Dinas berencana membebaskan 50 hektare lahan setiap tahun hingga 2030.  Pada 2015, Dinas hanya membeli 50,45 hektare lahan seharga sekitar Rp 1 triliun untuk disulap menjadi taman dan makam. Jumlah ini naik pesat dibanding pembelian pada 2014 seluas 11,75 hektare dan 9,32 hektare pada 2013.

Ekspansi ruang hijau bergeser ke Jakarta Timur dan Jakarta Selatan, yang masih banyak terdapat lahan kosong. Setidaknya 1.000 hektare lahan di Jakarta Timur berpotensi menjadi RTH dengan harga masuk akal.

Saat ini pemerintah provinsi sedang membahas sistem land banking, yang regulasinya sedang dibahas pemerintah pusat. Sistem ini memungkinkan negara membeli tanah sebanyak-banyaknya lalu memanfaatkannya atau menjualnya kembali kepada pemerintah daerah dengan harga murah untuk kepentingan publik. Semoga saja rencana itu cepat terealisasi agar pemenuhan kebutuhan pohon bagi kehidupan yang lebih baik segera terlaksana.

Sumber: Tempo