Comment

Bagaimana Jika Rasa Takut Mu Bisa Dihilangkan?

Setiap manusia normalnya memiliki rasa takut meski kadarnya berbeda-beda.  Rasa takut adalah sebuah respons alami tubuh terhadap sesuatu yang dianggap bisa membahayakan, oleh sebab itu kehadirannya penting untuk kelangsungan hidup. Namun bagaimana bila rasa takut mu itu bisa dihilangkan? Apakah mungkin?

Sekelompok peneliti mengklaim tengah mengembangkan cara baru yaitu dengan langsung memprogram ulang pengaturan rasa takut di otak. Mereka menyebutnya teknik ‘Decoded Neurofeedback’.

Dr Ben Seymour dari University of Cambridge, Inggris, selaku salah satu peneliti menjelaskan bahwa teknologi pemindaian dan teknologi kepintaran buatan (AI) dipakai untuk melacak aktivitas otak yang spesifik untuk rasa takut tertentu. Setelah diketahui maka langkah berikutnya adalah mengubah supaya bukan rasa takut yang terpicu setiap aktivitas tersebut muncul.

ahloo-rasa-takut-2

“Bagaimana informasi diwakilkan dalam sebuah aktivitas otak sangat rumit. Namun dengan menggunakan kecerdasan buatan dan metode pemindaian gambar kita dapat mengidentifikasi aspek konten informasinya,” kata Dr Ben seperti dikutip dari siaran pers resmi universitas.

Tim melakukan eksperimen dengan mengenalkan 17 partisipan sehat sebuah ketakutan baru. Selama beberapa waktu setiap partisipan melihat gambar tertentu, sebuah aliran listrik diberikan membuat mereka terkejut sehingga otak lama-lama membuat respon sinyal takut yang teridentifikasi.

Aktivitas otak tiap partisipan dimonitor dan setiap sinyal yang sama seperti saat disetrum muncul, peneliti lalu menimpa memori yang ada dengan memberikan partisipan hadiah. Setelah diulang terus selama tiga hari hasilnya partisipan diketahui tidak memberikan lagi respon takut yang sama.

“Kami tak lagi melihat respons ketakutan keringat dingin atau juga aktivitas berlebih di pusat rasa takut amygdala. Ini berarti kami telah berhasil mengurangi memori tentang rasa takut tanpa partisipan secara sadar mengalami rasa takut itu sendiri dalam proses,” ujar pemimpin studi Dr Ai Koizumi dari Advanced Telecommunicatons Research Institute International, Jepang.