Comment

Indonesia Terdepan Dalam Pemanfaatan Bioavtur

Kebijakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil bukan hanya dikenakan pada pembangkit listrik yang masih tergantung pada bahan bakar minyak bumi. Pemerintah Indonesia juga mulai menerapkan pengurangan konsumsi minyak bumi atau energi fosil pada alat transportasi. Yang terbaru kebijakan ini ingin diterapkan pada transportasi udara melalui pemanfaatan bioavtur.

Bioavtur merupakan bahan bakar pengganti avtur yang diolah dari bahan bakar nabati. Saat ini di dunia belum ada satu pun negara yang memanfaatkan bioavtur dalam industri penerbangan mereka. Namun Indonesia diyakini sudah selangkah lebih maju.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM saat berbicara di Paviliun Indonesia di Marrakech, Maroko, Rabu (16/11) waktu setempat. Menurut Rida, secara teknologi bioavtur sudah bisa diproduksi dan Indonesia sudah terdepan dalam menggunakannya.

Dirjen EBTKE, Rida Mulyana

Dirjen EBTKE, Rida Mulyana

Hanya saja, pihak penerbangan seperti perusahaan maskapai dan produsen mesin pesawat belum memberikan lampu hijau pada penggunaan bioavtur. “Ini baru inisiatif awal tapi kita sudah memulainya. Negara lain saja belum memikirkan, produksinya sebenarnya juga bisa,” kata Rida.

Meskipun belum mendapatkan lampu hijau, Rida mengatakan industri penerbangan Indonesia mulai perlahan beralih ke bahan bakar biomassa. Setidaknya hal itu dimulai pada penggunaan biodisel dan bioetanol pada kendaraan darat yang digunakan di bandara-bandara di Indonesia. PT Pertamina (Persero) menjadi pihak yang memasok bahan bakar nabati tersebut.

“Jika nanti sudah boleh digunakan kami tinggal atur soal mekanisme harga bioavtur di pasaran. Mungkin mekanismenya tidak jauh berbeda dengan mandatori biodisel,” tutup Rida. (dj)