Comment

Film Adaptasi Game, Tak Selamanya Sukses

Warcraft: The Beginning, sebuah film yang bercerita mengenai perseteruan ras manusia dengan kaum Orc sudah bisa disaksikan oleh pecinta film Indonesia, khususnya para gamers di Tanah Air yang sudah lebih dulu mengenal karakter di film ini melalui video games. Ya, Warcraft adalah satu satu film yang diproduksi dari cerita video games.

Kemunculannya dinantikan namun sekaligus dipandang dengan pesimis. Sebuah feature menarik ditulis dari laman website Metro.co.uk mengenai kemungkinan sukses atau tidaknya film ini di pasaran. Dalam artikelnuya ditulis, ada sebagian besar penggemar games yang justru berharap industri film Hollywood berhenti memproduksi film adaptasi seperti Warcraft dan para pendahulunya. Bagi mereka, hal itu adalah kesia-siaan karena game dan film memiliki perbedaan yang seringkali berujung pada kekecewaan.

Produksi film adaptasi games memang memiliki potensi profit yang tinggi. Industri film membaca peluang ini ketika melihat animo gamers yang tak pernah surut dari waktu ke waktu. Warcraft memiliki potensi itu bila melihat jumlah penggemar game nya yang sangat tinggi dari seluruh dunia. Namun apakah strategi seperti ini akan selalu berakhir dengan kesuksesan? Belum tentu.

Tim ahloo menemukan fakta unik bahwa game yang populer di pasaran tak berbanding lurus dengan produksi film yang diadaptasi dari game serupa. Banyak kritikus film berani menyebut film-film ini sebagai yang terburuk. Banyak faktor yang menyertainya seperti kualitas sinematografi yang buruk, jalan cerita yang tidak jelas, hingga visual efek yang tidak keren.

Alone in The Dark (2005)

Mortal Kombat: Annihilation (1997)

House of The Dead (2003)

In the Name of The King: A Dungeon Siege Tale (2008)

Street Fighter: The Legend of Chun-Li (2009)

Super Mario Bros (1993)

BloodRayne (2006)

Wing Commander (1999)

Postal (2008)

Silent Hill (2006)

10 judul film di atas sudah cukup mewakili bahwa tak selamanya film adaptasi games selalu mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat. Padahal ketika muncul dalam versi video gamesnya, profit yang didapatkan oleh pengembang tidaklah sedikit. Meski begitu kita tidak boleh menafikan kemungkinan bahwa Warcraft mampu mendapatkan sambutan meriah layaknya pendahulu mereka seperti Tomb RIder, Assassin, dan Prince of Persia.

Satu hal yang sama dari film-film yang sukses itu. Pembuatannya begitu serius dan mahal dengan kehadiran aktor dan aktris papan atas Hollywood. Mungkin inilah strategi pasar yang diambil oleh produsen film untuk menarik minat masyarakat. So, Warcraft hanyalah kelanjutan dari periode adaptasi film dari games. Kemunculannya hampir bersamaan dengan Angry Bird the Movie yang masih tergolong “sepi” bila dibandingkan dengan film animasi atau action lainnya. Padahal games ini mampu mengalahkan Facebook, Instagram, dan Twitter ketika memecahkan rekor download terbanyak hingga 50 juta dalam waktu satu bulan.