Comment

Selain Ki Hajar Dewantara, 6 Tokoh Nasional Ini juga Dikenal Sebagai Pemikir Pendidikan

Siapa yang tak kenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Pendiri sekolah Taman Siswa itu terlahir dengan nama Suwardi Suryaningrat. Ia dianggap sebagai bapak pendidikan nasional karena kontribusinya yang besar terhadap dunia pendidikan terutama saat awal kemerdekaan. Hingga saat ini pemikiran Ki Hajar mengenai pendidikan masih dianggap relevan dan jad pondasi bangsa.

Namun tahukah kamu meskipun orang hanya mengenal Ki Hajar sebagai begawan pendidikan, Indonesia memiliki tokoh-tokoh lain yang juga berkontribusi besar pada dunia pendidikan. Bukan hanya lewat pemikiran yang tertuang dalam tulisan, kontribusi itu juga tertuang secara praktis ketika mereka mendirikan lembaga atau sekolah alternatif.

Nah, bertepatan dengan hari pendidikan nasional, ahloo mau mengajak kamu mengenal beberapa tokoh pendidikan nasional yang selama ini agak terlupakan. Siapa saja mereka? Yuk kita simak bersama.

1. Tan Malaka

Sebelum Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan, Tan Malaka sudah lebih dulu menyerukan kemerdekaan 100% dan konsep negara republik. Namun oleh pemerintah Orde Baru, namanya sengaja ditenggelamkan dan tidak diperkenalkan sebagai salah satu pahlawan nasional. Semasa hidup, Tan Malaka pernah mendirikan sekolah bagi anak-anak buruh dan petani sebagai tandingan sekolah buatan Belanda. Pemikiran Tan Malaka mengenai sekolah dan dunia pendidikan dapat disimak di buku  SI Semarang dan Onderwijs yang terbit pada 1921.

2. Ahmad Dahlan

Dikenal sebagai pendiri organisasi Islam tertua, Muhammadiyah. Bukan hanya bergerak dalam bidang sosial dan politik, Ahmad Dahlan juga memiliki andil dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan Islam. Semua pemikiran Ahmad Dahlan diawali kegelisahannya atas kondisi orang Indonesia yang saat itu banyak mengalami ketertinggalan, kebodohan, dan kemiskinan. Salah satu jalan keluar yang diambil adalah melalui pendidikan. Itulah mengapa semasa hidupnya, Ahmad Dahlan pernah juga mendirikan Madrasah Ibtidaiyah atau sekolah setingkat SD bagi kaum miskin di Yogyakarta. Selain belajar agama, di sekolah ini mereka juga diajari pengetahuan umum seperti membaca dan berhitung.

3. Dewi Sartika

Ia cukup beruntung karena menjadi satu dari sedikit perempuan Indonesia yang merasakan bangku sekolah di zamannya. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan di belakang rumah ibunya di Bandung. Ia mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu. Pada 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau.

4. RA Kartini

Hampir sama dengan Dewi Sartika, RA Kartini dikenal sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita di era kolonial di wilayah Jawa Tengah. Karena tak ingin kaum perempuan terus tertinggal dan dibodohi, Kartini dengan caranya sendiri berjuang untuk mendirikan sekolah bagi kaum perempuan agar dapat menjadi manusia yang cerdas dan mandiri.

5. Maria Walanda Maramis

Maria dianggap sebagai sosok pendobrak adat, pejuang kemajuan, dan emansipasi perempuan di dunia politik dan pendidikan. Ia ditahbiskan sebagai salah satu perempuan teladan Minahasa yang memiliki bakat istimewa untuk menangkap mengenai apapun juga dan untuk memperkembangkan daya pikirnya, bersifat mudah menampung pengetahuan sehingga lebih sering maju daripada kaum lelaki. Dalam artikel-artikelnya, ia menunjukkan pentingnya peranan ibu untuk mengasuh dan menjaga kesehatan anggota-anggota keluarganya. Ibu juga yang memberi pendidikan awal kepada anak-anaknya. Mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT) pada 8 Juli 1917 dan menjadi pemimpinnya. Dan membuat cabang-cabang di Minahasa, seperti di Maumbi, Tondano, dan Motoling.

6. Romo Mangunwijaya

Oleh publik Romo Mangunwijaya dikenal sebagai rohaniwan Katolik yang memiliki perhatian besar terhadap permasalahan sosial dan pendidikan. Selain sebagai rohaniwan, Romo Mangun juga dikenal sebagai arsitek handal. Dalam dunia pendidikan ia banyak terpengaruh pemikiran tokoh pendidikan asal Brazil, Paulo Freire dimana konsep pendidikan yang membebaskan adalah hal yang terutama. Ia lalu mendirikan sekolah SD Mangunan sebagai konsep pendidikan alternatif untuk anak miskin agar selalu bermuara pada upaya pemerdekaan.